Tuesday, 28 June 2016

Di Manakah Alloh? (1) Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah

Di Manakah Alloh? (1) Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah,- Sudah menjadi rahasia umum bahwa Wahhabi gemar membuat kebohongan untuk membenarkan ajaran mereka termasuk masalah Di manakah Alloh?. Artikel ini akan Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah yang konon katanya meyakini Alloh berada di atas langit. 

Salah satu artikel yang ditulis oleh ustad Wahhabi, Ustad Muhammad Abduh memuat Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah. Dalam artikel itu dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah dalam kitab Fiqih akbar berkata "Barang siapa yang mengingkari keberadaan Alloh di atas langit, maka ia kafir."

Berikut screen shotnya:

Di Manakah Alloh (1) Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah


Tanggapan:


Setelah melakukan penelitian, sekalipun hanya kecil-kecilan, saya menemukan banyak sekali kebohongan sang ustad wahhabi ini. Di samping itu ternyata perowi yang meriwayatkan perkataan Imam Abu Hanifah adalah perowi dho'if. 

Kebohongan Wahhabi Pertama


Mengenai pernyataan Imam Abu Hanifah yang kata Ustad Muhammad Abduh dinukil dari kitab Fiqhul Akbar, bahwa beliau berkata "Barang siapa yang mengingkari keberadaan Alloh di atas langit, maka ia kafir", maka sesungguhnya Ustad Wahhabi ini telah melakukan kebohongan. Dalam kitab Fiqhul Akbar tidak ada pernyataan seperti itu.

Redaksi tersebut adanya dalam kitab Itsbatu Shifatil Uluw {1/116-117} karya Ibnu Qudamah Al-Muqoddasi, Kitab At-Tuhfah Al-Madinah {1/87} karya Hamad Bin Nashir Bin Umar dan Kitab Syarah Qosidah Ibnul Qoyyim {1/448} karya Ahmad Bin Ibrohim Bin Isa. 

Saya menduga Ustad Wahhabi ini tidak merujuk ke kitab Fiqhul Akbar Secara Langsung. Tetapi Ia merujuk kitab Itsbatu Sifati Shifatil Uluw. Berikut teks dalam kitab tersebut:

وبلغني عن ابي حنيفة رحمه الله انه قال في كتاب الفقه الأكبر من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر 

Artinya: "Telah sampai kepadaku dari Abu Hanifah bahwa beliau berkata dalam kitab Fiqhul Akbar: barang siapa yang mengingkari Alloh berada di langit maka sesungguhnya ia kafir."

Sayang sekali Sang ustad Wahhabi melakukan kebohongan ilmiah. Dia tidak jujur dalam menukil redaksi. Dia hanya menukil matannya saja sebagai berikut:

من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

Sang ustad Wahhabi tidak mencantumkan kalimat balaghoni (وبلغني). 

Mengapa? 

Sebab ia tahu bahwa sighot balaghoni menunjukan riwayat semacam ini tidak shohih. Dalam kitab Ma'rifatu Ulumil Hadits {1/56}, Abu Abdillah Muhammad Bin Abdulloh Al-Hakim An-Naisaburi berkata:

ومن شرائط المسند أن لا يكون في إسناده ( أخبرت عن فلانة ) ولا ( حدثت عن فلان ) ولا ( بلغني عن فلان ) ولا ( رفعه فلان ) ولا ( أظنه مرفوعا ) وغير ذلك ما ينفسد به ونحن مع هذه الشرائط لا نحكم لهذا الحديث بالصحة

Artinya: "Sebagian dari syarat musnad (sambung) (1) hendaknya di dalam sanadnya tidak ada (kata) Akhbartu 'an fulan, Hadatstu 'An fulan, BALAGHONI 'AN FULAN,........ Kami dengan syarat-syarat ini tidak menghukumi shohih terhadap hadits ini."

Kebohongan Wahhabi Kedua


Saya menduga, sang Ustad Wahhabi ini tidak merujuk pada kitabnya secara langsung. Tetapi ia hanya menukil dari kitab Al-Uluw kaya Adzdzahabi atau Mukhtashor Uluw yang ditahqiq oleh Al-Bani. Ini bisa kita lihat dari redaksi yang digunakan. 

Dalam kitab Fiqhul Akbar menggunakan redaksi berikut:

 قَالَ ابو حنيفَة من قَالَ لَا اعرف رَبِّي فِي السَّمَاء اَوْ فِي الأَرْض فقد كفر 

Sedangkan dalam kitab Al-Uluw menggunakan redaksi sebagaimana yang ditulis oleh sang ustad dalam artikelnya seperti berikut:

سألت أبا حنيفة عمن يقول : لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض . قال : قد كفر 

Redaksi seperti ini juga tertera dalam kitab Itsbatul Uluw, At-Tuhfah AL-Madinah, Syarah Qosidah Ibnul Qoyyim, Ma'arijul Qubul, Jami'ur Rosa'il, dan lain-lain. 

Apapun itu, yang jelas riwayat itu tidak bisa diterima. Sebab bersumber dari perowi dho'if. Riwayat tersebut bersumber dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy. 

Untuk mengetahui apakah riwayatnya shohih atau tidak, kita perlu merujuk ke kitab-kitab jareh wat ta'dil. Saya rekomendasikan agar anda membuka kitab Lisanul Mizan karya Ibn Hajar Al-Asqolani (W. 852 H). 

Dalam kitab Lisanul Mizan {3/246} dijelaskan bahwa Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy adalah murid Imam Abu Hanifah. Setelah menjelaskan biografinya, Ibn hajjar Al-Asqolani menukil komentar para ulama terkait Abu Muthi’, sebagaiberikut:

Ibn Ma'in berkata: tidak memiliki apa-apa. 
Murroh berkata:  Dho'if.
Imam Bukhori berkata: Dho'if.
Imam Nasa'i berkata: Dho'if.
Ibn Jauzi memasukan Abu Muthi' dalam kitab Dhu'afa.
Imam Ahmad berkata: Sebaiknya tidak meriwayatkan apapun dari Abu Muthi'.
Abu Dawud berkata: Tinggalkanlah haditsnya.
Ibn Adi berkata: Abu Muthi' jelas dho'ifnya. Kebanyakan riwayat darinya tidak boleh diikuti.
Ibn Hibban berkata: Abu Muthi' adalah tokoh murji'ah.
Al-Uqoili berkata: Abdulloh Bin Ahmad berkata, saya bertanya kepada ayahku terkait Abu Muthi' Al-Balkhy, maka ayahku menjawab: Sebaiknya tidak meriwayatkan apapun dari Abu Muthi'.

Keterangan serupa juga dijelaskan oleh Adzdzahabi dalam Mizanul I'tidal {1/574}

Ibn Sa'ad dalam kitab Thobaqot Kubro {7/374} berkata: "Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy adalah seorang murji'ah. Menurut ulama dia dho'if dalam hadits.

Khotib Al-Baghdadi dalam kitab Tajridul Asma {1/168} berkata: "Abu Muthi’ adalah (perowi) dho'if."

Dalam kitab Dhu'afa Al-Uqoili {1/256} dikatakan: "Muhammad Bin Ahmad bercerita kepada ku, Mu'awiyah Bin Sholih bercerita kepada ku, dia berkata' Yahya berkata: "Abu Muthi’ Al Balkhiy adalah (perowi) dho'if."

Dari komentar para ulama terkait Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy dapat disimpulkan bahwa dia adalah perowi yang dho'if; kebanyakan riwayatnya tidak boleh diikuti karenanya sebaiknya tidak meriwayatkan apapun darinya. 

Jika demikian, lalu bagaimana Wahhabi menjadikan riwayat Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy sebagai sumber klaim tentang aqidah Imam Abu Hanifah? Apakah anda akan menggunakan riwayat dho'if untuk aqidah anda?

Kita tahu bahwa selama ini wahhabi paling anti terhadap riwayat Dhoif sekalipun untuk masalah fadhoil a'mal. Lalu mengapa untuk masalah aqidah mereka menggunakan riwayat dho'if? Jawab wahhai Wahhabiyuun????


Semoga artikel Di Manakah Alloh? (1) Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah bermanfaat bagi Anda. Jika kamu suka dengan artikel Di Manakah Alloh? (1) Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Abu Hanifah ini, like dan bagikan ketemanmu.

Post a Comment

Qosim Ibn Aly - All Right Reserved.Powered By Blogger
Template SEO Fendly by JimsonTemplate Edit by : Tutorial Blogspot